lambrtz and Money

*switch to Bahasa Indonesia*

Pagi ini, pas bangun tidur, saya melihat handphone saya, yang saya taruh di atas laptop di meja, bergetar. Babe telpon dari Jogja. Katanya, “Le, papa ga jadi berangkat.” Saya pun terhenyak. “Lah, kenapa?” “Ternyata ga bisa berangkat kalau masa berlaku passportnya kurang dari enam bulan.”

Jadi begitulah. Rencana awalnya, kedua orang tua saya ditambah adik saya mau main kemari. Seharusnya, buat Enyak, itu akan jadi ketiga kalinya. Buat Babe, itu akan jadi kedua kalinya. Namun, buat adik saya, itu akan jadi pertama kalinya dia kemari, dan juga pertama kalinya dia naik pesawat. Membaca status Facebooknya semalam, dia sudah sangat berharap bisa main kemari, karena akan mendapat dua pengalaman pertama itu. Namun, ya apa boleh dikata, rencana ini harus ditunda. Tentu dia kecewa. Saya pun kecewa karena berbagai sebab. Saya ndak tertarik nulis sebab-sebab itu secara mendetil di sini, tapi yang ingin saya tulis adalah bahwa baru beberapa saat kemudian saya menyadari, uang bukanlah sebab kekecewaan yang utama.

Beaya tiket PP buat orang tiga naik pesawat itu tentunya ndak murah. Tapi saya heran, kenapa saya jadi ga terlalu concerned dengan itu? Dan ini bukan yang pertama kali. Yaa adalah dulu beberapa kesempatan ketika saya harus membatalkan membeli / memakai jasa sesuatu perusahaan dan uangnya tidak bisa ditarik kembali. Waktu itu saya sama kurang concernednya. Kalau menghadapi kejadian seperti ini, saya selalu menerawang ke banyak-banyak tahun yang lalu, ketika saya masih kecil. Saya datang dari keluarga yang biasa saja secara finansial. Ibu cuma tenaga kesehatan di puskesmas di desa (sampai saya SMP), dan saya lebih milih bilang bapak saya bapak rumah tangga. Bisa lah dibilang keluarga middle class, tapi mungkin lower middle. Dan saya masih ingat sebuah pengalaman waktu saya masih kecil dan tinggal di sebuah desa di luar kota Ponorogo, waktu itu siang hari Minggu sangat panas. Babe sakit, dan Enyak ga tahu mau cari makan siang di mana. Maklumlah, di desa kecil ndak apa-apa ada, dan kami pendatang di sana. Untungnya dulu bisa minta tolong tetangga, yang juga staf puskesmas tempat Enyak kerja, untuk beliin gulai di sekitar sana. Saya sudah ingat-lupa, tapi setelah gulai datang, sepertinya ada bagian gulai yang saya ga mau makan, dan saya akhirnya sedikit makan jatahnya Enyak atau Babe, lupa. Betapa egoisnya. Mungkin mereka berdua sudah lupa juga waktu itu, tapi saya entah kenapa masih inget kejadian belasan tahun yang lalu ini. Ada perasaan bersalah, dan sekedar untuk diingat-ingat saja bahwa kami pernah hidup susah. Contoh lain pengalaman seperti ini tentu saja waktu gempa Jogja tahun 2006, dan malam harinya kami ga bisa masak karena ga ada air bersih (air sumur kecampuran pasir), dan di Jogja banyak tempat makan yang ga buka atau kehabisan. Alhasil kami malam ga makan, plus karena takutnya rumah tua kami bisa ambrol kalau ada gempa susulan (untungnya tidak), kami harus tidur di luar, di garasi mobil yang terbuka, sementara waktu itu hujan.

Ya kira-kira begitulah. Saya sih ga bilang hidup kami menderita atau gimana, toh kalau kami minta surat keterangan miskin dari ketua RT setempat buat ngajuin beasiswa ke UGM dulu, bukan lagi cuman ditolak, tapi bakal diketawain, literally. Tapi ya, saya kalau pas ada rejeki biasanya ngingat-ingat masa-masa pernah susah jaman dulu, buat ga ngabis-abisin atau gimana gitu. Dan secara umum, kalo dipikir-pikir mental saya masih mental kere. Apa-apa nyari yang murah. Biarpun setoran yang saya terima sudah cukup buat beliin adik saya PC baru, nggantiin PC yang saya pake waktu masih ngerjain skripsi dulu, saya musti mikir-mikir kalau beli kopi di Starbuck, atau masuk keluar cafe dengan harga minuman hampir 10 dolar, atau sekedar beli es krim berhagar belasan dolar. Toh kopi peng yang dijual di food court di dekat apartemen saya, dan es krim yang dijual si uncle di pasar juga enak dan nikmat walaupun jauh lebih murah (tentu saja standar di sini). Mending saya jalan-jalan deh, atau beli buku novel. Jalan-jalan pun saya ga berani jauh-jauh, paling-paling ya ke JB atau Batam, paling jauh ke KL, ndak seperti temen sebelah saya yang mainnya ke Phuket dan Hong Kong. Novel pun saya cari yang murah, ga sampe 10 dolar per buku, dan terakhir malah gresek-gresek di Bras Basah, di toko buku bekas di sana hehehe.

Tapi ya itu tadi. Makanya saya heran, kok bukan uang yang jadi concern pertama saya. Mungkin sebab yang lain itu lebih fundamental buat saya, tapi yang saya takutkan adalah kalau saya jadi bukan saya lagi.

4 Responses to “lambrtz and Money”


  1. 1 dnial 29/07/2011 at 4:46 PM

    Kok beda ya?
    Meski aku juga bukan dari keluarga kaya, uang nggak pernah jadi concern utamaku. Kecuali banyak…😀

    Setelah kerja, concernnya malah, ah duit bisa dicari toh bulan depan ada lagi, tapi [insert something here] tidak. Nggak berarti diumbar dan foya2, cuma nggak pelit aja.

    Buatku, banyak hal lebih berharga dari duit sih. Tapi tergantung duitnya berapa. Dan duit itu komoditas paling mudah dicari, berharga ya waktu, pendidikan, keluarga, kebahagiaan.

    *ini aku ngomong apasih?*

  2. 2 Mizzy 29/07/2011 at 5:06 PM

    Kalo saya concern banget sama nilai uang, apalagi jika uang tersebut hilang/lepas karena kejadian tak terduga, kaya yang Lambrtz alami. Kalau saya pasti ngeluh dan mangkel sendiri😆. Kaya kapan tau itu pulsa saya kepotong sampai 80ribu padahal cuma buat ngenet 30 menit.. ugh sebelnya sampai sekarang >,<

  3. 3 Ando-kun 30/07/2011 at 1:19 PM

    sebagai penganut bitelisme, anda seharusnya sangat concern tentang uang😆
    Ah iya, aku juga punya pikiran yg sama soal “duit bisa dicari lagi dilain waktu”, sehingga kadang nggak mikir juga kalau ngirim duit ke Indonesia atau membelanjakannya demi hobi kayak nonton film ke bioskop atau rekreasi (walaupun yg ini selalu nyari akomodasi paling hemat). Gak kepikir apa mbe, duit lebih untuk saudara yang membutuhkan di Indonesia?

  4. 4 lambrtz 08/10/2011 at 11:23 PM

    Respon yang telaaaaaaaaaaat banget😆

    @dnial
    Kalo saya kan belum kerja mapan masbro. Funding bisa hilang begitu saja. Tapi ya itu. Kayanya untuk urusan keluarga saya bisa jadi agak royal.😛 Sisanya, terutama untuk gaya hidup, balance ajalah…

    @Mizzy
    Alamak…80 ribu itu di sini bisa buat ngenet 2 minggu😯 *eh*
    Kalo saya…kayanya tergantung juga. Dalam beberapa kasus, kalo yang bikin hilang itu rasanya urgen / tak terhindarkan, ya gimana lagi. Langsung diterima aja kenyataannya.😕

    @Ando-kun
    Saya…belum tahu kapan bisa memikirkan tentang saudara yang membutuhkan ;_;


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

July 2011
S M T W T F S
« Jun   Aug »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
Click to view my Personality Profile page