Archive for the 'Adventure' Category

Cepat Pulang, Cepat Kembali Jangan Pergi Lagi

I often found myself being bothered by songs about coming home/homesickness/missing a travelling person. [500 Miles]. Firasat. [Rumah Kita]. This is most probably related to [my desire to travel]. And as such a person I revere songs on travelling. [Freebird] being the [most prominent example].

The post title translates roughly to “quickly go home, quickly return and don’t leave again” from Marcell’s Firasat (Hunch?), which I heard being performed by one of the guest band in today’s Indonesian Diaspora Gathering in Bristol. BTW I and some other Indonesians in Cardiff also performed there.

Home is where your heart is. So bring your home as you travel.

Slice of Life 12 2 2017

The last days have been cold. Not cold cold, but pretty cold for Cardiff.

So I moved house. To somewhere closer to the coach station.

I am going to London in March. Let’s see what I can see there.

And work has been tough. I knew it would touch interoperatibility but I didn’t expect the intensiveness.

Seagulls

So I did it.

I probably should have written it earlier but anyways it has been about 1.5 months since I travelled to Cardiff. The trip took 1 whole day, and I needed to switch transportation modes a few times: taxi to Changi – air flight to Frankfurt – air flight to London – coach to Cardiff.

Well things have been interesting here. I need to adapt to the harsh(?) cold winter that I had never experienced. I need to cook for myself. And my BRP was late to the point that it raised some administration issues—but nonetheless almost everything is settled now.

Indonesians often complain that Singapore is boring because of its minuscule size. I did share that view. However during my 8 years of stay there, I found living in Singapore to be convenient. Too convenient actually. That I don’t need to cook, I can buy hot food almost everytime I want, even supermarkets and convenience stores near my apartment are open 24 hours, whereas here there are no food courts let alone hawker centres, food in restaurants are expensive, and the buses are not as frequent, not to mention the Brexit issue always sitting around the corner. So I am grateful for this experience. I quit my comfort zone to move here, and I look forward to seeing more interesting stuffs and continuing my career here while better taking care of myself.

The title is from the kind of birds I often see flying here. Those big white birds. Actually not sure what they are. Maybe seagulls, albatross, or something else? But their sound reminds me of that the squawks of seagulls in the psychedelic section in Echoes. It’s a nice sign that I am actually in the UK.

Fire of Joy and [???]

Fire set up in the city of happiness!
Its citizens indulged on the mass-feast to celebrate the reign of the new sultan.

Hoorah, long live to our blessed sultan!

I was just a guest to the small city-kingdom, but I was overjoyed
as the citizens were warm and welcoming
and all from every walk of life, native or foreign, were invited to the feast.

And all my worries in the past seemed unfounded.

As I called it a night,
my heart was filled with two contradictoru feelings,
one of joy, one of which I cannot recognise.

It was the feeling that one feeling was supposed to be there, was expected to be there, but it was not there.

The journey is still long.

Melangkah Masuk Bagian III

Angin misteri membawaku terbang menuju dekat Al-Sa’ada
Kota penuh tanda tanya yang dulu membuat berpikir delapan, delapan juta kali
Dan yang dulu kuputuskan untuk kutinggalkan untuk sementara

Barangkali besok aku sudah bisa sampai di gerbangnya

**k Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau: Impian, Perjalanan, Cinta Kasih, dan Tagline

Kalo diminta nggambarken potret versi romantisasi/idealisasi dari dirimu, apa yang kamu bayangkan? Bagaimana ekspresi wajahmu? Bagaimana posturmu? Pakaian apa yang kamu kenakan? Di mana kamu berada? Sedang apa dirimu?

Ndak tau kenapa, beberapa hari belakangan ini yang terpikir di otak saya adalah gambaran saya yang sedang berdiri tegak, membelakangi kamera/penggambar. Saya pakai pakaian lengkap, jaket, celana jins, sepatu tracking (saya sebetulnya ga punya), dan tas ransel, yang terlihat berat, banyak isinya…walaupun yang nampak di gambar cuman dari paha ke atas. Karena membelakangi, muka saya dan ekspresi muka saya ga kelihatan. Jadi ada kesan agak emotionless. Ada beberapa orang berseliweran di kanan kiri jauh dekat, tapi itu bukan keramaian. Latar belakangnya kabur agak berkabut, tapi saya membayangkan di balik kabut ada tampak samar-samar bangunan-bangunan residensial dan ruko-ruko yang agak tua, mungkin macam di Eropa.

Entah kenapa bayangannya seperti ini. Saya mengartikannya sebagai saya yang selalu siap pergi ke mana impian berada. Impian apa? Ya salah satunya impian mengelilingi dunia. Barangkali saya sudah berkali-kali nulis soal ini. Kalau ditelisik ke belakang, barangkali asal mulanya adalah motivasi orang tua. Orang tua yang selalu mendorong saya untuk menjelalah negeri lain, untuk bisa berbakti di manapun saya berada. Dan alasan lainnya ya alasan praktis. Bahwa buat keluarga kami yang jelas-tidak-kaya-walaupun-kalau-ngaku-miskin-pasti-ditertawakan, sampai beberapa tahun lalu, ke luar negeri adalah kemewahan yang hanya bisa berada di awang-awang. Jadi, ketika saya akhirnya punya kesempatan, saya ndak mau menyia-nyiakan lagi, setelah sebelumnya saya sejujurnya agak menyia-nyiakan juga. Saya senang tahun 2012 lalu saya bisa [ke Jerman], tapi itu cuman 10 hari, dan sekarang saya masih stuck, ndak terlalu jauh dari kampung halaman saya. Biar gitu, saya pingin pergi lebih jauh lagi.

Namun, sejujurnya, saya agak takut dengan hal itu. Barangkali ini efek menyebalkan media sosial juga: suka membanding-bandingkan dengan teman. Kalau saya melihat beberapa teman saya, baik di dunia maya maupun nyata, yang sudah berkeluarga dan menetap, kadang ada terbersit keirian dalam hati saya. Bahwa saya pingin juga punya juga yang begitu itu. Bahwa ada yang lebih muda dari saya dan baru saja punya anak, saya pingin juga seperti itu. Bahwa ada yang sedang merantau dan setiap hari kangen anaknya, saya pingin juga punya seseorang yang bisa dikangeni seperti dalam konteks ini. Lha lak itu tamak namanya. Tapi ya kenyataannya begitulah. Ditambah lagi, dengan kondisi saya yang sekarang ini, sepertinya membangun keluarga menjadi sedikit lebih susah. Apalagi kalau bukan [tentang] [kolam].

Kembali ke perjalanan. Saya punya keyakinan bahwa masa-masa saya di Singapore akan berhenti tidak lama lagi. Saya berharap setahun lagi saya sudah tidak di sini lagi. Saya mulai mendramatisasi kondisi ini. Tempat yang dulu saya anggap membosankan, ternyata lambat laun bisa juga jadi menyenangkan dan menenangkan, kalau cara hidupnya pas juga. Pada saat yang bersamaan, saya juga mencoba mewujudkan yang saya tulis di paragraf sebelumnya. Tapi, sejauh ini hasilnya belom bagus. Saya masih punya harapan, saya yakin. Tapi kalau sampai saat saya pergi saya masih belom dapat progres yang bagus, saya ndak tau lagi kapan yang di atas itu bisa terpenuhi.

Dan seperti ada tertulis di sesi favourite quotes di halaman about Facebook saya,

“A rolling stone gathers no moss.”

***

Sekian dulu postingan saya. Tadinya cuman pingin menjelaskan visualisasi romantisasi diri saya. Ternyata akhirnya secara tak sadar saya juga sedang menjelaskan tagline blog ini.

Menuju Sina

Aku baru saja bangun tidur. Kepalaku pusing, sepertinya karena tiga pekan terakhir ini matahari bersinar sangat terik, tak seperti bulan-bulan sebelumnya.

Tak terasa sudah dua bulan lewat sejak aku terakhir menulis di catatan perjalananku. Kota yang dulu lama kutimbang-timbang untuk kusinggahi, telah jauh kulewati. Entah karena apa. Mungkin karena mengurus izin masuknya sangat rumit. Mungkin karena impianku untuk ke Murrakus mengalahkan niatku masuk al-Sa’ada. Yang jelas adalah aku sudah jauh dari sana. Mungkin tidak tergariskan untuk kudatangi kali ini. Mungkin memang tak tergariskan sama sekali. Tapi kalau memang ada tergariskan, aku akan megunjunginya kembali.

Kalau petaku tak salah, dan kalau saudagar-saudagar yang kupapasi benar, aku sebentar lagi masuk Sina. Aku ingin mengunjungi Jabal Musa, sebelum singgah di…aku tak tahu, al-Qahirah atau al-Iskandariyya. Aku punya perasaan yang kuat tak lama lagi, dalam beberapa bulan saja, aku akan sampai di sana.

Dengan mengucap Bismillah, aku melanjutkan perjalanan.

.

Menuju Sina, tahun 521 bulan 10


lambrtz looks like this

Me

You can write comments in any language that you want, but please bear in mind that I only understand 4 languages: English, Indonesian, Javanese and Malay.

Archives

Categories

August 2017
S M T W T F S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Click to view my Personality Profile page